Seputar Pertanian
BERANDA  KEBIJAKAN DAN PERATURAN      ARTIKEL    DATA DAN FAKTA    TENTANG SITUS INI 

Kementan Minta Penghitungan Statistik Pertanian Ditinjau Ulang


TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono mengatakan penghitungan statistik sektor pertanian perlu ditinjau ulang. Hal ini diungkapkannya usai diminta konfirmasi tentang kontribusi sektor pertanian yang terus menurun terhadap pertumbuhan ekonomi atau PDB.
"Misalnya kinerja sektor tanaman pangan yang dihitung hanya gabah, padahal petani juga ubah gabah menjadi beras," kata Hari Priyono kepada Tempo saat dihubungi pada Sabtu, 1 April 2017.
Hari menuturkan ketika ubah gabah menjadi beras, ada nilai tambah di sana dan itu tak dihitung sebagai kinerja sektor pertanian. Begitu pun dengan sawit yang hanya dihitung melalui tandan buah segarnya. "Padahal sektor ini kan menghasilkan minyak sawit mentah (crude palm oil /CPO)."
Menurut Hari penghitungan statistik kinerja sektor pertanian juga harus menghitung industri primernya, karena kalau tidak maka nilai dari sektor ini akan terus mengecil. Dia berharap produk akhir seperti beras dan CPO bisa juga dihitung sebagai kinerja sektor pertanian, selama ini memang beras dan CPO dihitung sebagai kinerja sektor perindustrian.
Begitu pun dengan produk gula yang juga dihitung sebagai kerja sektor industri, sedangkan sektor pertanian hanya dihitung kinerja produksi tebunya saja. "Dalam statistik hal seperti ini perlu diperhitungkan (masuk sektor pertanian)," tutur Hari.
Selain itu, tenaga kerja sektor pertanian juga hanya dihitung yang bekerja di sawah saja. Padahal, Hari menjelaskan pihaknya banyak membantu petani dalam melakukan hilirisasi. "Petani yang ubah gabah menjadi beras menjadi seolah-olah sudah keluar dari sektor pertanian," ujarnya.
Bank Indonesia menyebutkan sumbangan sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam 25 tahun terakhir kian kecil. BI menyebut keterbatasan lahan dan jumlah tenaga kerja yang terus menyusut disebut mengakibatkan sumbangan sektor ini anjlok dari 22 persen pada 1991 menjadi 13 persen tahun lalu.

DIKO OKTARA

Sabtu, 1 April 2017