Situs Web       Bumi Tani

 www.bumitani.com  

PUSTAKA PILIHAN

Petani tidak peduli dengan ketahanan pangan, yang mereka inginkan pendapatan meningkat,

       Rudi Wibowo   (Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) Selengkapnya..

 

To accomplish great things, we must not only act but also dream. Not only plan but also believe.

Anatole France (1844-1924)

SEktor pertanian diusulkan memperoleh alokasi anggaran Kementrian Pertanian Rp 16,802 trilyun dalam RAPBN 2011, naik 88,8 % dari APBN 2010, plus subsidi pupuk Rp 16,56 trilyun, subsidi benih Rp 1,86 trilyun,  (3) subsidi Kredit Program Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) sebesar Rp 429,7 miliar; (4) Risk Sharing KKP-E sebesar Rp 147,7 miliar; (5) Subsidi Kredit Pengembangan Energi Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) sebesar Rp 138,5 miliar; dan (6) Subsidi Kredit Usaha Perbibitan Sapi (KUPS) sebesar Rp 288 miliar.

Sumber : Kementrian Pertanian

DATA DAN FAKTA

JUMLAH PETANI

Berapa jumlah petani di Indonesia ? Pertanyaan ini perlu klarifikasi lebih jauh. Siapa petani yang dimaksud ? Istilah petani memiliki pengertian yang bersifat umum dan di dalamnya terangkum banyak sekali jenis yang lebih khusus.  Ada petani padi, petani hortikultura atau sayuran, petani gurem, buruh petani dan sebagaianya. Dalam Bahasa Inggris, terdapat istilah farmer dan peasant yang tentunya juga memiliki perbedaan arti. Farmer biasanya merujuk pada petani dalam pengertian yang lebih umum, yang mempraktekkan budidaya tanaman atau ternak, baik untuk dijual ke pasar atau dikonsumsi sendiri, sementara peasant berkonotasi petani kecil, miskin dan berlahan sempit atau gurem untuk konteks Indonesia.

Di Indonesia, istilah petani biasanya dimaksudkan untuk menunjuk pada orang yang melaksanakan budidaya tanaman, jadi berbeda dengan peternak yang membudidayakan hewan ternak.  Tetapi orang yang memelihara ikan di kolam, biasanya juga disebut sebagai petani ikan, bukan peternak ikan.  Namun BPS menggunakan istilah petani untuk menyebut orang yang bekerja dalam sektor pertanian, meliputi petani dan buruh tani, baik pengguna lahan maupun bukan pengguna lahan. Termasuk pengguna lahan adalah peternak dan petani ikan, karena keduanya tetap memerlukan lahan di daratan sebagai kandang atau kolam ikan. Petani bukan pengguna lahan antara lain meliputi orang yang membudidayakan ikan/biota di laut dan atau perairan umum lainnya, memungut hasil hutan dan usaha di bidang jasa pertanian. Jadi semua yang telah disebutkan sebagai petani, peternak, petani ikan bahkan termasuk petani hutan, dalam terminologi yang digunakan oleh BPS termasuk sebagai petani. Meskipun demikian, dalam Sensus Pertanian yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali (mulai 1963), BPS menggunakan konsep rumah tangga pertanian, bukan petani. Istilah petani digunakan dalam konteks tenaga kerja yang bekerja dalam sektor pertanian.

Dengan demikian, jika berpegang pada data BPS istilah petani dapat menunjuk pada dua pengertian, yakni rumah tangga pertanian (sebagai kepala rumah tangga) dan tenaga kerja dalam sektor pertanian. Tenaga kerja dalam sektor pertanian bisa saja merupakan kepala rumah tangga pertanian atau anggota rumah tangganya sehingga jumlahnya bisa melebihi jumlah rumah tangga pertanian.  Sementara itu, rumah tangga pertanian meliputi jenis-jenis rumah tangga yang dibedakan berdasar jenis kegiatan budidaya atau usaha pertanian yang dilaksanakan, baik menggunakan lahan maupun tidak. Kategorisasi semacam ini memungkinkan sebuah rumah tangga pertanian dapat sekaligus termasuk lebih dari satu jenis rumah tangga tergantung kegiatan budidaya yang dilaksanakan oleh rumah tangga bersangkutan. Selain itu masih terdapat jenis rumah tangga petani gurem yang didefinisikan sebagai rumah tangga pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 ha.

Adanya berbagai pengertian tentang petani tersebut membuat penyebutan istilah petani tidak cukup diberikan begitu saja tanpa menjelaskan batasan pengertiannya. Terlepas dari mana yang lebih tepat, perbedaan dalam batasan pengertian yang digunakan dapat menimbulkan perbedaan data yang cukup besar dan dengan demikian mengaburkan konsep-konsep terkait yang dibangun berdasar batasan masing-masing.  Sebagai contoh, seperti pernah diungkap oleh seorang peneliti (Erizal Jamal dalam Sinar Tani, 5-11 April 2006), jumlah rumah tangga pertanian berdasar konsep BPS mencapai 48,66 % dari total rumah tangga atau sekitar 71,6 % rumah tangga di pedesaan. Dengan menggunakan definisi lain yang digunakan untuk menghitung jumlah petani di tiga desa dalam Kabupaten Kerawang, ditunjukkan bahwa jumlah petani hanya berkisar antara 29,7-49,3% dari total populasi yang disensus.

Istilah apapun yang digunakan, cukup jelas secara umum bahwa pengertian petani menunjuk pada suatu lapisan atau golongan dalam masyarakat yang mencari dan memperoleh nafkah kehidupannya dari usaha pemanfaatan sumber daya alam yang dapat diperbarui (tanaman, hewan ternak  dan ikan/biota laut), baik sebagai usaha pokok satu-satunya maupun dilengkapi dengan usaha-usaha lainnya. Merekalah yang secara historis mewarisi cara hidup sejak dari masa terdahulu dalam sejarah bangsa Indonesia dan tetap bertahan sampai kini. 

Untuk kepentingan praktis dan mudah dipahami, petani yang dimaksudkan dalam uraian ini merujuk pada tenaga kerja (manpower) pertanian sebagaimana  dikonsepsikan oleh BPS, yaitu penduduk berumur 15 tahun atau lebih yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa dalam sektor pertanian.  Namun data lengkap yang tersedia hanya ada dalam Sensus Pertanian 2003 yang masih menggunakan kriteria lama, yakni dengan batasan umur 10 tahun atau  lebih.  Secara keseluruhan berdasar data Sensus Pertanian 2003, jumlah mereka mencapai   83,6 juta orang.  Tidak semua tenaga kerja tersebut bekerja, ada yang menganggur atau sedang mencari pekerjaan.  Yang bekerja sebagai petani (bekerja sendiri) berjumlah 34,99 juta orang   atau  60,34 % dari total tenaga kerja pertanian yang bekerja, sebagai buruh tani sebanyak 14,367 juta orang  atau  24,77  %,  dan sebagai buruh non pertanian sebanyak 8, 631 juta   orang atau  14,88 % (Lokollo, Erna M dkk dalam Dinamika Sosial Ekonomi Pedesaan : Analisis Perbandingan antar Sensus Pertanian).

Sementara itu, jika dilihat sebagai  rumah tangga pertanian, data dalam Tabel  berikut menunjukkan jumlah total rumah tangga pertanian dan jenis-jenis rumah tangga pertanian lebih khusus lainnya berdasar Sensus Pertanian 2003.

Jumlah Rumah Tangga Pertanian dan Rinciannya berdasar Sensus Pertanian 2003 (BPS)

Jenis Rumah Tangga Pertanian

Jumlah

%

(dari Total Rumah Tangga nasional)

Rumah Tangga Pertanian (RTP)

24.868.675

47,01%

RTP  Padi

13.770.100

26,03%

RTP Palawija

10.858.258

20,52%

RTP Hortikultura

8.457.228

15,99%

RTP Perkebunan  

6.943.163

13,12%

RTP Kehutanan

3.427.491

6,48%

RTP Peternakan/Perunggasan

5.627.939

10,64%

RTP Perikanan Air tawar

665.712

1,26%

RTP Perikanan di Sawah

106.533

0,20%

RTP Perikanan Air Tawar/Sawah

761.458

1,44%

RTP Perikanan Tambak Air Payau

133.604

0,25%

RTP Penangkapan Satwa Liar

7.213

0,01%

RTP Perikanan/Biota di Laut

45.734

0,09%

RTP Perikanan/Biota di Perairan Umum

31.341

0,06%

website design software

[BERANDA] [SEPUTAR PERTANIAN] [GAGASAN dan  OPINI] [KEBIJAKAN] [RISET dan  TEKNOLOGI] [DATA dan FAKTA] [TENTANG SITUS INI]